Welfare Regime

Konsep welfare regime menjadi bagian yang sulit dipisahkan dalam kajian mengenai kesejahteraan dan kebijakan sosial baik di welfare state maupun di negara-negara berkembang dalam dua dekade terakhir. Konsep yang diperkenalkan oleh Gosta Esping-Andersen ini, awalnya dipakai untuk mengkaji mengenai kebijakan sosial di welfare state di kawasan Eropa dan negara-negara Anglosaxon.

Namun demikian, tidak lama berselang setelah pengenalan konsep tersebut, bersamaan dengan munculnya pujian dan kritikan terhadap pemikiran Esping-Andersen, beberapa ilmuwan sosial dalam studi kebijakan sosial mengembangkan konsep tersebut untuk memahami sitem kebijakan sosial di negara-negara berkembang. Setelah itu, kajian mengenai welfare regime di negera berkembang menjamur, layaknya pertumbuhan jamur di musim hujan.

Kajian tentang welfare regime di Indonesia masih sangat terbatas, relatif tertinggal dengan kajian tentang welfare regime negara-negara di Asia Timur. Andai kita meyakini mesin pencari ‘scholar google dot com’ cukup representatif sebagai mesin pencari informasi kajian akademis, dengan menggunakan mesin pencari tersebut bisa diketahui bahwa sekarang ini belum ditemukan kajian yang mendalam mengenai welfare regime di Indonesia. Hanya ditemukan beberapa artikel yang membahas perbandingan welfare regime di Indonesia dengan beberapa negara lain di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur .

Karena artikel tersebut merupakan kajian komparasi,  analisisnya tidak terfokus pada Indonesia sehingga kajianya kurang mendalam. Padahal, untuk memahami ‘bangunan rumah’ kebijakan sosial di suatu negara, kajian mengenai welfare regime sangat diperlukan. Bermula dari keprihatinan atas kenyataan tersebut, dalam menyelesaikan program S3 nya di Australian National University, Mulyadi Sumarto meneliti mengenai welfare regime di Indonesia. Desertasinya mengeni welfare regime ini diberi judul: “Welfare Regime, Social Capital, and Clientelism: a Case Study of Welfare Provision Programs in Indonesia, 1998-2011”.  Terkait dengan desertasinya ini, Mulyadi telah menulis overall paper  desertasinya dengan judul ‘Welfare Regime, Social Capital ,and Clientelism: Evidence from Indonesia yang  dipresentasikan dalam koneferensi internasional mengai kebijakan sosial di Asia Timur.

Sebagai bagian dari ‘komunitas kecil’ akademisi  – kalau tidak boleh disebut masih sendirian -  yeng meneliti secara mendalam mengenai welfare regime di Indonesia, Mulyadi mengalami kesulitan yang cukup serius dalam memahami dan memetakan mengenai perkembangan welfare regime di Indonesia. Namun inilah tantangan akademis yang cukup besar yang barangkali ada manfaatnya untuk kajian lebih lanjut mengenai kebijakan sosial di Indonesia.

0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment