Social Capital

Konsep social capital yang sekarang banyak digunakan oleh masyarakat namun kadang kurang kontekstual penggunaannya, bukan merupakan konsep yang baru. Konsep ini punya akar yang kuat dalam kajian pada disiplin Sosiologi dan Ilmu Politik yang sudah muncul pada tahun 1910an. Ketika diperkenalkan, seperti konsep-konsep akademis yang lain, konsep ini belum membangkitkan minat masyarakat untuk menggunakannya.

Baru pada tahun 1970an setelah Bourdieu, Coleman, dan Putnam menggunakan istilah ini, penggunaan konsep ini mengalami booming. Merujuk pengertian yang dikonseptualisaikan oleh Putnam, konsep ini mencakup jaringan sosial (social network), kepercayaan publik (trust), dan norma sosial (social norm), dengan demikian melihat cakupannya, konsep ini merupakan konsep makro ‘rimba belantara’ yang cukup luas. Terlepas dari berbagai kritik terhadapnya, konsep ini memiliki arti yang sangat penting dalam kajian kebijakan sosial.

Dalam sejarah kebijakan sosial di Indonesia, social capital memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Dalam kajiannya mengenai social capital, Putnam menggunakan arisan sebagai contoh riel wujud social capital di masyarakat. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh beberapa antropolog dari Belanda menyatakan bahwa arisan merupakan perwujudan social capital yang mampu melindungi masyarakat miskin dari dampak krisis ekonomi 1998.

Dalam konteks kajian kebijakan sosial, sebenarnya social capital di Indonesia tidak hanya berwujud arisan. Masih banyak aktifitas sosial masyarakat yang bisa dikategorikan sebagai wujud social capital. Namun sayangnya, sebagian dari wujud social capital tersebut telah rusak karena implementasi kebijakan yang tidak bisa ‘bergandengan tangan’ dengan social capital.

Contoh yang jelas bisa kita lihat adalah mulai lenyapnya ‘lumbung desa’ sebagai bagian dari social capital dalam bidang ketahanan pangan (food security).Program beras miskin (Raskin) dan Batuan Langsung Tunai (BLT) pun juga mengancam keberlangsungan social capital. Fenomerna terancamnya social capital ini diawali oleh munculnya konflik sosial di masyarakat yang terjadi dalam program Raskin dan BLT. Fenomena dari munculnya konflik sosial dalam program Raskin dan BLT, bagaimana konflik tersebut mengancam social capital, dan bagaimana preservasi social capital dilakukan oleh masyarakat menjadi salah satu kajian dalam desertasi Mulyadi Sumarto yang sedang diselesaikannya di Australian National University. Isu ini juga dibahas secara makro dalam dalam judul ‘Welfare Regime, Social Capital, and Clientelism: Evidence from Indonesia yang  dipresentasikan dalam koneferensi Internasional mengai kebijakan sosial di Asia Timur.

0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment